Caution: Membacanya dengan hati dapat membuat air mata menangis dan hati bergetar. Terlebih mendengar kajiannya langsung ketika proses menjelang wafatnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ini adalah musibah yang sangat sangat besar di antara musibah musibah manapun di dunia ini.
Bismillah, inilah saat di mana menyempatkan berbagi sesuatu yang sedikit dimiliki. Semoga dapat dikoreksi oleh para pembaca yang budiman.
Hikmah detik detik kepergian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
1. Disunnahkan meruqyah dengan al-Qur’an dan dzikir. Khususnya al-Mu’awwizatain. Yang dimaksud al-Mu’awwizatain adalah surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Naas. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa meruqyah dirinya sendiri. Dan inilah sebaik-baik ruqyah dengan diri sendiri. Terkecuali ketika menjelang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau diruqyah oleh istrinya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Inilah yang dimaksud masuk surga tanpa hisab adalah jika seseorang selama hidupnya tidak meminta untuk diruqyat.
2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang sangat mencintai dan memperhatikan anaknya. Yakni ketika menjelang wafatnya, beliau sangat memperhatikan anaknya Fathimah radhiyallahu ‘anha. Penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. Terlebih ia adalah seorang perempuan. Beliau mendidiknya dengan Islami. Beliau selalu menyambutnya dengan perasaan senang, selalu mencium keningnya dan mendudukkannya di sisinya. Bahkan beliau memlilihkan putra terbaik. Calon terbaik untuk anak perempuannya. Anak perempuan adalah anak yang sangat membutuhkan perhatian lebih. Ini bukan maksud untuk mengesampingkan anak laki-laki. Sungguh tidak sama sekali. Namun inilah kenyataannya, terlebih pada zaman sekarang ini perempuan menjadi pintu-pintu fitnah bagi laki-laki. Inilah yang menjadikan orang tua harus memberikan bimbingan dan pendidikan Islam. Yang mana jelas-jelas bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
3. Cinta seorang anak kepada orang tuanya. Fathimah radhiyallahu ‘anha tidak kalah mencintai ayahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia selalu menyambut ayahnya dengan berdiri dan mencium keningnya. Inilah hikmah agar kita meneladani untuk berbakti kepada orang tua. Selalu berbuat baik dan menjauhkan sifat durhaka kepada orang tua.
4. Haram hukumnya mengubur di dalam masjid. Maupun membangun masjid di atas kuburan. Bahkan membuat gambar atau memasukkan gambar ke dalam masjid. Ummu salamah ketika bercerita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa tempat-tempat ibadah orang-orang non Islam terdapat gambar-gambar di dalamnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat-sangat melaknat hal tersebut. Ini merupakan sesuatu yang tidak layak di dalam masjid. Ini menyebabkan orang-orang sibuk memperhatikan gambar-gambar tersebut dari beribadah kepada Allah ta’ala. Terlebih gambar-gambar bernyawa di dalamnya.
5. Kegembiraan orang-orang beriman dalam menjemput ajal. Tidak takut menghadapi ajal. Karena orang-orang beriman yakin akan bertemu dengan Rabb nya. Maka dengan ini akan menjadi motivasi bagi orang-orang beriman untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Sekaliber Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam manusia pilihan saja mengalami sakitnya sakaratul maut. Apalagi kita manusia biasa yang banyak berbuat dosa. Sesungguhnya sakitnya sakaratul maut adalah tergantung amal seseorang. Maka kuncinya adalah menjaga aqidah kita agar khusnul khotimah mengiringi kematian kita.
6. Pentingnya shalat dan shalat berjamaah. Untuk memenuhi panggilan Allah ta’ala. Tidak membiarkan masjid-masjid kosong. Masjid-masjid merasa kesepian. Orang-orang lalai dalam memenuhi panggilan Rabb nya. Padahal dengan sengaja meninggalkan shalat, sesorang akan terancam kekufuran. Allah berfirman: “Jika ia bertaubat kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat, maka ia adalah saudara seagama”. Inilah yang dimaksudkan pentingnya shalat. Tidaklah dikatakan saudara segama sampai seseorang tersebut mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Shalat merupakan ibadah yang membatasi kufur dan syirik. Membedakan agama Islam dengan yang lain. Bagaimana seseorang dikatakan muslim sedangkan tiang sebagai pondasinya saja runtuh. Keningnya tak pernah menempel di atas tanah. Menghadap Rabb nya. Kemudian pentingnya shalat berjamaah adalah suatu syiar Islam yang tersebar. Di mana akan memupuk ukhuwah bagi jamaahnya. Inilah salah satu penyebab di antara hati-hati kaum muslimin mudah terpecah belah. Bertemu dengan saudaranya saja dalam satu barisan satu pimpinan imam yang satu sangat jarang sekali.
7. Meluruskan barisan dalam shalat. Betapa hal ini sangat sering disepelekan oleh ummat belakangan ini. Padahal detik-detik menjelang wafatnya Nabi beliau tersenyum menyaksikkan barisan ummatnya dalam shalat berjamaah begitu lurusnya. Inilah senyum beliau yang tak seperti biasanya selama hidupnya.
8. Kewajiban meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa sesungguhnya hakikat cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sekadar pengakuan maupun perayaan. Hakikat cinta itu sendiri dibuktikkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Ummat yang dikatakan paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah para shahabat. Jika apa-apa yang dilakukan dan diada-adakan oleh ummat belakangan ini adalah sesuatu yang baik dan manfaat, maka Rasulullah dan para shahabatnya sudah melakukannya. Hakikat cinta sesungguhnya adalah dengan mempelajari sunnah-sunnah dan ajaran-ajaran beliau. Amalkan dan hidupkan sunnah tersebut agar mendapat kemuliaan.
9. Hendaklah berwasiat bagi orang yang sakit dan merasa ajalnya sudah dekat. Berwasiat kepada keluarga dan kerabatnya. Berwasiat kepada mereka untuk tetap bertaqwa dan bersabar kepada Allah ta’ala.
10. Ketika sedang sakit, bersabarlah karena sesungguhnya dengan sabar itu akan mengangkat dosa-dosa yang ada dengan hanya mengharap pahala kepada Allah ta’ala.
11. Kewajiban mencintai para shahabat karena mereka adalah sebaik-baik generasi di muka bumi.
12. Mendahulukan yang paling penting dari sesuatu yang penting. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, menyegerakan penyelenggaraan jenazah beliau adalah sesuatu yang penting. Namun ada masalah yang paling penting ketika itu. Yakni masalah pemimpin ummat, memilih seorang pemimpin di kala suasana genting akan banyak fitnah-fitnah bertebaran. Supaya tidak berada dalam kekosongan tanpa seorang amir. Pernah suatu ketika dalam perjalanan, maka hendaklah suatu rombongan memilih salah seorang untuk menjadi seorang amir. Namun kepemilihan pemimpin ini tidaklah dengan menghalalkan segala cara seperti kebanyakan kasus saat ini. Prosesnya itu harus dilakukan dengan cara yang syar’i.
13. Pentingnya mempelajari sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengannya akan semakin menumbuhkan rasa cinta kita kepada beliau. Akan senantiasa meneladani dan menjaga sunnah serta ajaran beliau. Hidupkan kajian-kajian sirah nabawi yang dapat dipertanggungjawabkan. Meneladani sosok dan kepribadiannya secara komprehensif. Bukan hanya sebatas mengetahui nama dan tanggal lahir beliau.
Wallaahu a’lam bish shawaab.
Sumber : Nurul Hidayah, Yogyakarta,
Dwi Puji Astuti, Twitter: @Inspirasi Berkah , FP: Dwi Puji Astuti, S.Si, Email: puji_alatsariyah@yahoo.com

0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berikan Komentar Anda Disini: