Dear Halim Miftahul Khoiri, We are delighted to invite you as a participant of International Student Week in Ilmenau 2013 (ISWI 2013), Congratulation!
Berita itu masuk di emailku pada tanggal 11 Maret 2013, tepat setelah shalat subuh. Kalimat syukur berkali-kali terucap. Aku lolos mengikuti acara ISWI; pekan mahasiswa internasional di kota Ilmenau, Jerman. Panitia akan menanggung akomodasi selama pelaksanaan acara namun mereka tidak menanggung biaya transportasi. Baiklah, ini adalah tantangan yang harus aku hadapi. Dengan segenap keyakinan, harapan dan mimpi, aku memberanikan diri untuk mengatur strategi untuk mencapai Jerman. Meskipun hidup di kos-kosan dengan serba pas-pasan, aku yakin bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Memang ini bukan kali pertamanya aku ke luar negeri, tapi ini akan menjadi pengalaman pertamaku pergi ke benua Eropa.
Strategi pertama yang aku lakukan adalah mengobservasi beberapa calon donor yang potensial. Dengan capaian prestasi semacam ini, aku pikir banyak orang-orang atau lembaga-lembaga di Indonesia yang berbaik hati untuk membantu dan mendukung. Ide yang aku bawa dalam Pekan Mahasiswa Internasional ini adalah Gerakan Integritas Melalui Media Sosial (tema: Media) dan Kesatuan Transenden Agama-Agama (tema: Faith and Religion). Sebenarnya banyak tawaran acara pekan mahasiswa atau konferensi mahasiswa di luar negeri, tetapi kebanyakan –di samping selektif- mereka memungut biaya pendaftaran dan akomodasi sehingga peserta harus menanggung biaya lebih banyak. Aku sengaja mendaftar ke acara ISWI karena ada sebagian dana yang ditanggung oleh pihak penyelenggara, yaitu akomodasi. Dengan demikian, aku hanya perlu mengeluarkan dana untuk transportasi saja. Tapi bagaimana aku mau membayar penerbangan ke Jerman sedangkan aku mahasiswa dengan uang pas-pasan?
Sebenarnya ditanggungnya akomodasi oleh panitia adalah satu hal yang sudah menjadi posisi tawar dari pengajuan proposalku kepada para calon donor. Perjuangan-pun dimulai, ini bukan hal mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilalui!
Hutang Jutaan Rupiah
Oleh karena jarak keberangkatanku ke Jerman adalah tiga bulan terhitung sejak surat resmi undangan ISWI masuk ke email, aku berfikir untuk mengambil resiko yang sangat besar. Dengan keterbatasan finansial, memang aku membutuhkan bantuan dana dari pihak sponsor untuk membeli tiket pesawat. Tetapi jika aku mengajukan sponsor hari ini, perkiraan pihak sponsor akan memberikan tanggapan mungkin satu bulan lagi, itupun belum tentu mereka memberikan uangnya secara langsung. Jika pembelian tiket aku lakukan setelah uang benar-benar jatuh dari sponsor, bisa jadi harga tiket sudah melambung tinggi karena sudah dekat dengan hari keberangkatan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk meminjam uang salah seorang teman sebesar 1095 USD untuk membeli tiket pesawat. Oh Tuhan, aku tahu ini beresiko besar! Bagaimana kelak nanti jika aku tidak bisa mengembalikan? Tiket aku beli tepat dua hari setelah email undangan dari panitia masuk. Dengan demikian, aku mendapatkan harga tiket yang terbilang lebih murah. Syukurlah aku mempunyai teman yang memberikan kepercayaan untuk hal ini. Padahal dia juga tahu bahwa aku mahasiswa pas-pasan. Mungkin dia memberikan respon positif itu karena melihat semangat dan tekadku. Dengan tenggat waktu yang telah ditentukan, yaitu satu setengah bulan sejak transaksi dilakukan, aku harus mengembalikan uang yang aku pinjam itu.
Pencarian Sponsor, Banyak Orang Baik di Negeri Kita
Hutang yang aku lakukan itu justru menjadi motivasi tersendiri untuk bersemangat dalam mencari sponsor. Tidak banyak institusi yang aku target untuk pengajuan proposalku, karena di antara belasan institusi yang ada dalam daftar catatanku, hanya tiga dari mereka yang potensial untuk memberikan dukungan dana. Kurang lebih berikut adalah inti dari proposal yang saya ajukan:
“Saya selaku mahasiswa Universitas Paramadina telah lolos mengikuti program pekan mahasiswa internasional di Jerman. Saya terpilih untuk mewakili Indonesia dalam perhelatan dua tahunan yang dilaksanakan oleh Ilmenau University of Technology tersebut. Di sana saya akan mempresentasikan ‘Integrity Movement via Social Media’, sebuah gerakan anti-korupsi yang pernah dijalankan selama dua bulan oleh beberapa mahasiswa Universitas Paramadina pada akhir tahun 2011. Program tersebut dinilai sangat efektif dalam mewacanakan dan membangun kesadaran anti-korupsi di antara pengguna media sosial, khususnya para remaja berumur 18-24 tahun yang tidak lain adalah pengguna facebook terbesar di Indonesia. Selain itu, saya akan turut dalam forum diskusi Faith and Religion yang membicarakan tentang pandangan para pemuda dari berbagai belahan dunia terkait hubungan antar-agama.”
Dengan bermodalkan semangat untuk mewakili Indonesia dalam kancah internasional tersebut, aku yakin pasti ada calon donor yang akan mengapresiasi. Aku yakin, banyak kok orang baik di negeri kita! Gayung-pun bersambut. Akhirnya dua minggu setelah proposal aku ajukan ke tiga institusi itu mendapatkan tanggapan dari salah satunya, yaitu Rajawali Foundation (untuk kemudian disingkat RF). Akupun dipanggil ke kantor untuk diwawancarai oleh Mas Nuki (Program Manager RF) terkait proposal yang kuajukan, termasuk program jangka panjangku nanti setelah mengikuti acara ISWI.
Setelah proses wawancara usai, aku dag-dig-dug menanti keputusan. Melihat proses wawancara itu, aku sih yakin bahwa RF akan memberikan apresiasi atas inisiatif, semangat dan prestasiku. Kata Mas Nuki, hasil dari wawancara itu akan dirapatkan dulu oleh pihak RF untuk kemudian diberi keputusan; apakah RF akan membantu atau tidak. Aku diminta untuk menunggu selama dua minggu. Meskipun waktu itu adalah masa penantian yang penuh ketidakpastian, aku tetap optimis, belajar dan berdoa. Jujur, melakukan perjuangan semacam ini di sela-sela kegiatan kuliah bukanlah hal mudah! Sama sekali bukan hal mudah! Saat itu, di setiap malam aku sulit tidur karena banyaknya beban pikiran.
Ini Keputusannya! Bagaimana Menurutmu?
Hari itu pun datang. Di saat aku hendak melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi ujian akhir semester genap, aku ditelpon oleh Mas Nuki dan diminta untuk ke kantor RF. Langkahku-pun mulai tegap. Setelah mengikuti kelas di kampus, aku segera menuju kantor RF. Bismillah!
Saat masuk kantor, aku diminta untuk menunggu di ruang tamu oleh pak satpam. Dag-dig-dug berlantun di jantung dan nama Tuhan tak henti aku sebut. Mas Nuki-pun datang dengan sebuah berkas di tangannya. Kemudian dia menanyakan kabar dan …
“Jadi Halim menurutmu gimana nih?”.
Akupun bingung bagaimana harus menanggapi pertanyaan itu, “maksudnya bagaimana mas?”.
Kemudian diberikanlah berkas itu kepadaku, “Coba kamu baca baik-baik. Ini keputusannya! Bagaimana menurutmu?”
Aku perhatikan baik-baik, ternyata itu adalah berkas yang dirapatkan oleh pihak RF untuk mempertimbangkan dukungan mereka terkait keikutsertaanku dalam ISWI 2013. Di bagian akhir, aku melihat tulisan “approved”. Betapa senangnya melihat tulisan itu. Akupun melihat kembali mas Nuki dan bertanya sekedar untuk meyakinkan. Belum pertanyaanku terucap, Mas Nuki memberikan selamat dengan bersalaman,
“Selamat! Rajawali Foundation akan mensponsori keikutsertaanmu secara keseluruhan untuk mengikuti program ISWI 2013!”.
Alhamdulillah, semua kerja keras selama ini telah terbayar.
Kamu Nekat Sekali! Memangnya Kamu Sudah Kerja?
Sesaat kemudian, ada staf lain yang datang; Mbak Tari. Beliau adalah bendahara RF. Pertama kali, beliau mengucapkan selamat dan
“Halim, baik, kalo gitu nanti kami carikan tiket penerbangan kamu ya. Soalnya kami punya partner jasa travel. Bisa jadi nanti dapat harga murah dengan fasilitas yang bagus”.
Oh My Godness! Aku bingung bukan kepalang! Aku belum mengabari mereka bahwa tiket penerbangan untuk ke Jerman sudah aku beli dengan uang yang aku pinjam dari teman. Akhirnya dengan pelan aku jelaskan kepada Mbak Tari terkait inisiatif nekat yang aku lakukan dengan pertimbangan bahwa aku akan mendapatkan harga murah jika membeli lebih awal. Tanggapannya tidak sesuai yang aku bayangkan, beliau dengan sedikit kecewa mengatakan
“Kamu nekat sekali! Kamu kan belum tentu dapat sponsor, gimana kalo ternyata kamu ga dapet? Mau bayar pakai apa nantinya? Memangnya kamu sudah kerja? Kamu masih mahasiswa kan?”.
Akhirnya aku yakinkan untuk kedua kalinya bahwa tiket itu aku beli sebulan yang lalu. Jika beli sekarang, pasti jauh lebih mahal. Seminggu kemudian, beliau mengabari saya bahwa benar, saat ini tiket penerbangan ke Jerman harganya sudah naik dan aku telah mendapatkan tiket dengan harga lebih murah. Namun beliau menekankan kembali agar aku tidak melakukan lagi di kemudian hari nanti, langkah itu terlalu nekat.
Sebelum terbang menuju Jerman, Alhamdulillah beberapa tanteku memberikan uang saku. Aku sangat berterimakasih kepada mereka, tante Ina, tante Liza, tante Martono dan tante Wardah. Satu dosenku yang baik, Pak Lubis juga memberikan beberapa dollar sebagai pegangan. Alhamdulillah, rejeki tidak akan kemana. Satu hal yang aku hargai dari mereka; pemberian ini adalah wujud apresiasi mereka pada prestasi dan semangatku. Seketika aku berpikir bahwa suatu saat kelak, ketika aku sudah berkecukupan secara ekonomi, aku akan membantu mahasiswa yang mempunyai prestasi yang sama sepertiku.
Terbang ke Jerman via Abu Dhabi – Ulang Tahun Spesial
Aku berangkat menuju Jerman pada tanggal 29 Mei 2013. Sehari sebelumnya adalah jadwal ujian akhir semester yang terakhir. Dengan demikian, aku pergi meninggalkan Indonesia dengan tenang; UAS usai dan ini adalah masa liburan kuliah. Liburan semester genap di kampusku terhitung cukup panjang, yakni tiga bulan. Bulan pertamanya aku habiskan untuk keliling Eropa. Are you ready? Yes!!!!
Di pesawat, aku berjumpa dengan 7 delegasi Indonesia lainnya untuk acara yang sama. Alhamdulillah, aku tidak sendiri dalam perjalanan meskipun tempat duduk kita tidak berdekatan saat di pesawat. Kami tiba di Abu Dhabi untuk transit. Tepatnya pada pukul 01.00. Birthday time J. Tuhan, ini ulang tahunku. Aku melihat di facebook, beberapa teman telah memberikan ucapan selamat ulang tahun dan selamat belajar dan bereksplorasi di Eropa. Tuhan, syukurku tak berujung. Perjalananpun berlanjut ke Jerman. Sesampainya di Frankfurt, aku dijemput oleh dosenku yang sedang menjalani kuliahnya di sana, Pak Suratno. Di rumah beliau aku akan nebeng selama sebelum dan sesudah acara ISWI.
Ternyata, sudah ada satu delegasi Indonesia lain yang sudah sampai lebih awal dan juga menginap di rumah Pak Suratno, namanya Dina. Di hari itu juga, tanpa mengenal lelah, aku, Pak Sur dan Dina langsung meluncur dan menjelajah Frankfurt.
Kami berjalan menelusuri Frankfurt am Main, yang artinya Frankfurt di atas sungai Main. Sungai itu bersih. Jembatannya penuh dengan gembok-gembok cinta. Ahh, gue jomblo pula! Haha! Gembok-gembok itu biasanya dikunci pada tiang jembatan oleh muda-mudi yang sedang dimabuk asmara untuk kemudian kuncinya dilempar ke dalam sungai. Katanya biar cintanya lasting forever.
Sumber: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/09/21/perjalanan-mahasiswa-pas-pasan-dari-nol-rupiah-hingga-jelajah-eropa-593764.html